Sabtu, 01 Maret 2014

Cinta dan Berandalan

Cinta dan Berandalan

 

Di Pagi Hari, seperti biasa ku pergi ke sekolah menggunakan sepeda motorku, ku gas dengan pelan sambil merasakan dinginnya udara di pagi hari, sesampai di sekolah ku melihat banyak orang berjalan menuju sekolah. Aku   memakirkan motorku di tempat parkiran sekolahku, dan aku terus berjalan hingga menuju kelas.
Tak lama kemudian bel masuk kelaspun berbunyi, ku segera mengeluarkan buku mata pelajaran pertama. Aku duduk sambil terbawa lamunan, tak lama seorang gurupun datang sambil membawa seorang murid baru.
“nak perkenalkan siapa nama kamu” ajak guruku.
 “iya bu, perkenalkan namaku Shania Junianatha, kupindahan dari sekolah SMAN 1 Jakarta, ku pindah disini karena bapakku di tugaskan di Balikpapan, jadi aku ikut bersama orangtuaku pindah ke kota ini” ucapnya Shania.
“yaudah, Shania kamu mau duduk dimana saja sesukamu dan mulai berkenalan dengan temanmu Shania, silakan kembali ke tempat dudukmu”
“terimakasih bu” jawab Shania.
Shania pergi menuju tempat duduk paling belakang yang bersampingan dengan bangkuku, lagipula bangku di sampingku kosong karna tidak ada satupun orang yang duduk di bangku tersebut.
Waktu terus berlalu hingga tak terasa bel pulangan berbunyi, aku membereskan bukuku dan berdiri ingin pulang, entah kenapa seperti hatiku ingin berkenalan dengan Shania, ku memberanikan diriku untuk mengajak Shania berkenalan.
“Shania, perkenalkan namaku Surya Wira Kusuma, kamu boleh memanggilku “Surya”, senang bertemu denganmu ?” ucapku sambil mengulurkan tangan dan menatap wajah Shania yang manis sekali.
“boleh, namaku Shania Junianatha, aku biasa di panggil dengan nama “Shanju”, atau kamu bisa memanggilku dengan nama “Shania”, senang bertemu denganmu juga” jawab Shania sambil menjabat tangan denganku dan tersenyum melihatku.
“pulang sama siapa shan ?”
“hmm, gatau juga, ibuku sedang pergi ke acara, bapakku kerja, dan sopirku lagi ke rumah sakit untuk menemani istrinya yang sedang mau melahirkan”.
“pulang bareng aku yok shan, ku antar sampai rumah kok” ajakku sambil tersenyum melihat Shania.
“benarkah ? terimakasih banyak ya surya, kamu anak yang baik” jawab Shania yang kaget sambil tersenyum melihatku.
Sejenak ku terdiam dan melamun tentang masa” ku yang paling nakal, dulu ku dipanggil dengan “Switch” karna aku anak berandalan, aku berandalan tetapi tidak ikut dengan anggota geng kelompok, aku berandalan karna aku hanya melindungi orang yang lemah, entah kenapa setiap orang yang ku lindungi tidak ada satupun dari mereka yang mengucapkan “terimakasih” ataupun “baik”. Dan pertama kalinya ku mendengar seorang cewek yang pertama kali mengatakan aku “baik”, bagiku itu seperti mukjizat tetapi itu seperti nyata.
“sur..sur..sur..surya.. , jadi gak jemput aku pulang kok melamun??” Shania yang melambaikan tangannya di depan mataku.
“eh iya shan, maaf tadi aku teringat sesuatu, ayok kita pulang bareng” ajakku sambil tersenyum kepada Shania.
Aku berjalan bersama Shania sambil bercerita tentang masa lalu dia dan masa laluku, tetapi masa laluku yang berandalan itu tidak ku ceritakan kepada Shania takut semua itu akan terbongkar. Tidak lama kemudian kami sudah menuju tempat parkiran motor.
“shan, tunggu di pos situ dulu ya, aku mau mengeluarkan motorku” ucapku .
“iy deh sur, ku tunggu ya” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
Setelah ku mengeluarkan motorku, ku melihat shania seperti di ganggu 2 orang lelaki, dan ku melihat wajah Shania yang manis berubah menjadi wajah yang sangat ketakutan. Aku berlari menghampiri Shania.
“shan kamu kenapa ?, itu temanmu kah shan ?” tanyaku dengan curiga dan menatap mata Shania.
“bu..bu..bukan sur, aku tidak tau siapa mereka tetapi mereka merayuku dengan memaksa dan bahkan hampir mencolekku” ucap Shania yang sambil memegang tanganku yang sedang ketakutan.
“yaudah shan, kmu mundur 3 langkah dariku ya shan, berikan aku sedikit ruang” ucapku dengan tenang sambil meyakinkan Shania.
“ta..ta..tapi kamu bagaimana ?” jawab Shania khawatir.
“tenang aja kok shan, aku akan baik” saja untukmu” jawabku sambil tersenyum kepada Shania.
Setelah Shania mundur 3 langkah dariku, aku mulai berbicara kepada 2 anak lelaki itu, namun anak lelaki itu menganggap remeh aku, sehingga mereka memukul sekali ke wajahku hingga mengenai pipiku. Aku tersenyum dan mengatakan “Segitu Sajakah..!!!, tidak ada rasanya dibandingkan dengan GIGITAN NYAMUK”. Lalu ku hajar mereka habis”an hingga mereka lari.
Tiba” Shania datang dan menghampiriku
“kamu tidak kenapa” kan sur?” tanya Shania dengan penuh khawatir.
“iya tidak kenapa” santai aja kok shan” jawabku sambil tersenyum kepada Shania dengan tenang.
“ayok shan naik motorku, katanya pulang  bareng”
“yaudah deh sur makasih lagi ya sur”
“iy shan, sudah shan tidak usah berterimakasih,takutnya ku gede kepala, hehe” ledekku sambil tertawa kecil.
“ah kamu bisa saja, di saat tegang pasti kamu selalu saja menghiburku” jawab Shania sambil tersenyum manis kepadaku.
Setelah perkelahian tadi, Shania merasa tenang dan pergi menaiki motorku, lalu ku tancapkan gas pelan dan santai agar Shania tidak ketakutan, entah mengapa ku merasakan suatu kehangatan di saat Shania memelukku.
~
Setelah sampai di depan rumah Shania, ku langsung memberitahukan kepada Shania.
“shan udah sampai di depan rumah” ucapku tersenyum kecil ke Shania
“makasih ya sur ku turun dulu” jawab Shania.
Setelah Shania turun dari motorku, Shania mulai menawarkanku untuk mampir ke rumahnya, tapi ku tolak dengan pelan karena  hari semakin sore jadi ku harus bergegas pulang.
“shan udah dulu ya shan, ntar ibuku nyariin aku, hehe” ucapku sambil tertawa kecil.
“yaudah deh sur, terimakasih segalanya ya sur, aku sangat senang hari ini dicampur dengan tegang tadi, hehe” jawab Shania dengan tertawa kecil.
“yaudah ku duluan ya shan, sebelum keburu maghrib ini shan”
“iya sur, hati hati ya sur”
Lalu ku nyalakan motorku dan melambaikan tanganku kepada Shania dan mengucapkan “bye shan”, Shania melambaikan tangannya juga dan mengucapkan “hati” di jalan ya surya”.
~
Waktu terus berlalu hingga tak terasa 8 bulan, aku dan Shania sangat dekat hingga seperti teman dekat bahkan hampir seperti sahabat yang saling berbagi rasa satu sama lain, entah kenapa mulai muncul sebuah perasaan kepada Shania. Dan di saat itu ku mulai memberanikan diri untuk mengatakan sesungguhnya kepada Shania.
“shan, pulang bareng lagi yok, tetapi kita mampir di taman seberang situ, sudah lama tidak mampir kesana”
“ayok sur, ku juga lagi pengen kesana, pengen merasakan suasana disana” jawab Shania dengan senyuman manisnya.
“ok shan, setelah pulang sekolah ya shan”
“siip sur”
~
Setelah bel pulang berbunyi, aku segera mengeluarkan motorku dari parkiran, dan menghampiri Shania yang sedang menungguku di tempas pos seperti biasa dia menungguku.
“ayok shan kita ke taman”
“ayok sur”
Lalu Shania naik ke motorku dan kita pergi ke taman, selama perjalanan, aku dan Shania saling berbagi rasa . Ku seperti nyaman di dekat Shania, bru pertama kali ku mendapatkan teman seperti Shania, dia baik, lucu, periang, dan pintar. Aku senang berada di dekatnya,aku betah berada di dekatnya, bahkan dia seperti matahari bagiku, yang menyinari duniaku yang begitu gelap.
“shan, menurutmu di taman kita mau ngapain?”
“hmm, gatau, kalo menurutmu ?”
“aku mau ngapain aja asalkan aku berada di dekatmu shan” jawabku dengan becanda
“gombal lagi kan, cubit neh” ucap Shania sambil mencubitku pelan dan tersenyum manis
“cubit aja shan, itu tidak akan sakit tetapi akan sakit jika kamu berada di sisi orang lain” jawabku dengan tertawa kecil.
“ya kan gombal lagi, beneran ku cubit lho” Shania tersenyum dan mencubitku dengan lumayan keras
“hehe, sakit shan ampun shan” ucapku sambil tertawa kecil
“iy iy iy sur, eh udah sampai tuh sur”
“eh iy hampir keterusan, gak terasa berada di dekatmu membuatku lupa akan semuanya shan” ucapku sambil tersenyum
“sudah sur, gombal lagi dapat yang special lho” jawab Shania sambil tersenyum meremehkan
“iy kamu special di hatiku ya shan, hehe” ucapku dengan tertawa kecil.
“iih surya, jangan” kamu ada..”
“eh shan, kita turun disini, kmu tunggu aku disini dulu y shan, jangan kemana2 “
“ok sur”
Setelah ku parkirkan motorku, aku menghampiri Shania yang sedang menungguku, aku langsung mengajak Shania berjalan mengelilingi taman.
“ayok shan kita langsung jalan”
“ayok sur”
Selama perjalanan ku bercerita tentang Shania
“shan udah lama ku gak jalan jalan di sekitar taman sini”
“iya sur, sama saja aku juga baru pertama kali jalan jalan di taman ini”
“hehe, iya juga ya, ku baru sadar,dank u baru sadar juga..”
“baru sadar apa sur ?” tanya Shania dengan senyuman
“ku baru sadar, ku baru pertama kali mempunyai teman sedekat kamu, bahkan aku pertama kali mengajak temanku jalan bersamaku”
“kok bisa sur ?, emangnya ada apa denganmu dulu sur ?”
“tidak apa apa shan, hanya saja ku tidak pernah memiliki teman, bahkan mengajak ngobrol pun gak pernah”
“kok bisa ?, sejahat itu kah temanmu sur ?” jawab Shania dengan kaget
“aku gatau shan, aku bingung, setiap hal yang kulakukan baik, tapi dimata temanku ku selalu salah, ku bersikap baik dengan mereka, tapi mereka acuhkan kepadaku” jawabku dengan murung
“yang sabar aja sur, mungkin kamu belum waktunya punya teman yang special sur” jawab Shania sambil menepuk bahuku dan tersenyum manis kepadaku
“iya shan, makasih ya shan” jawabku sambil tersenyum kepada Shania
“iya sur, sama sama, sudah gak usah bersedih lagi”
“hehe iya shan udah gak sedih kok, shan kamu capek kah? Kita sudah lumayan cukup jauh berjalan”
“iy sur, capek juga, istirahat yuk”
“ayok shan, istirahat di café dekat situ saja, kan kamu belum makan juga shan?” ucapku sambil menawari Shania
“hehe, bisa saja kamu tau sur, ayok sur” jawab Shania sambil tertawa kecil.
Aku dan Shania mampir ke café dekat daerah taman itu, kami berdua sudah memesan makanan yang kami inginkan, dan kami tinggal menunggu pesanan itu datang sambil mengobrol.
“sur kamu tau gak?”
“tau apa shan?”
“ini pertama kalinya aku bertemu bersama seseorang yang melindungi akui”
“maksud kamu shan ?”
“iya, aku setiap ketemu seseorang,pasti selalu aku di jailin, di bully, dan bahkan aku di ejek sama temen temen,aku selalu baik kepada mereka setiap saat dan bahkan menolong mereka, tapi mereka tidak mempedulikanku, awalnya mereka baik kepadaku, tapi mereka diam diam memanfaatkanku.  walau ada lelaki yang suka sama aku,tetapi mereka enggan melindungiku, aku seperti merasa sekolah adalah sebuah neraka bagiku, aku bingung harus seperti apa, dan aku berpikir jika aku pindah ke Balikpapan apakah akan terasa sama seperti  di Jakarta ?, aku bingung sur, dan bahkan apakah aku harus berhenti sekolah ?, dan apakah aku tidak ada, semuanya akan senang ?, dan apakah..” ucap Shania sambil menahan air mata
“sudah cukup shan jangan di lanjutkan, aku akan berada disisimu sampai kapan pun shan, aku mengalami hal yang sama sepertimu, tetapi justru aku kebalikan dari dirimu shan, aku akan melindungimu sampai kapanpun shan” ucapku sambil menghapus air mata Shania
“maksud kamu sur ?” tanya Shania keheranan
“kamu akan tau semuanya pada waktunya kok shan” jawabku sambil tersenyum.
Tak lama kemudian pesanan kita sudah muncul, kami bersama” menikmati makanan itu sambil merasakan suasan sore hari di taman, di tambah lagi aku bisa merasakan kehangatan Shania yang berada di dekatku, bahkan setiap ku makan ku selalu menatap wajah Shania yang begitu cantik dan manis.
Kami pun selesai makan dan ku bayar semuanya, setelah selesai makan, aku dan Shania berencana untuk duduk di bangku taman tersebut.
“shan duduk di taman itu yok shan, sepertinya menarik” ucapku sambil mengajak Shania
“ayok sur”
Kami pun jalan berdua dan duduk di taman, disitu ku mulai mengungkapkan perasaanku.
“shan, kamu tau gak mengapa suasana sore ini begitu cerah ?” tanyaku sambil memandang langit
“enggak tau sur, emangnya kenapa ?” jawab Shania yang bingung
“karna suasana sore ini sangat mendung kita untuk berdua an shan” jawabku sambil melihat wajah Shania yang begitu manis.
“hehe, dari tadi gombal mulu sur” jawab Shania yang tersenyum manis melihatku
“iy shan, shan kita kan sudah lama dekatan”
“iy sur, terus “
“jika aku menjadi rumput dan pepohonan, kamu mau gak jadi matahariku ?”
“ma..mau..sur tapi maksudnya ??” jawab Shania dengan kebingungan
“aku senang shan di dekatmu, ku merasa betah di dekatmu shan, aku merasa seperti kamu adalah bidadariku, yang menyinari hari hariku dengan senyummu,canda tawamu,dan bahkan sedihmu shan, shan.. kamu mau kah jadi pacarku ?”
“surya, itu lain gombalan lagi kan ?” jawab Shania yang kebingungan sambil tersenyum
“enggak shan, aku serius, aku serius ingin menjadikan kamu sebagai pacarku, mau kan shan?”
“ta..ta..tapi aku lemah, aku tidak cantik, aku tidak pintar, dan aku..” jawab Shania dengan gugup
“shan tidak ada alas anaku menyukaimu, semua kekuranganmu ku terima dengan senang hati, kamu mau kan shan “
“ma..ma..mau banget sur, makasih ya surya “ ucap Shania sambil men senderkan kepalanya di pundakku
“iya shan sama2, ku cinta kamu sudah lama shan” jawabku dengan memegang tangan Shania
“iya sur, ku juga sudah tau kok perasaanmu, bahkan kedekatan kita seperti ada yang sepesial di hati kita” jawab Shania
“iy shan, di hatiku ter special hanya kamu, ku senang banget bisa memilikimu shan”
“iya sur ku juga”
Kami pun ber mesra an di taman itu tak terasa alarm jam tanganku berbunyi pada pukul 17.00.
“shan, ayok pulang tak terasa waktu berjalan begitu cepat”
“iya sur, makasih segalanya ya sur”
“iya shan, ayok shan kita pulang”
“ayok sur”
~
Setelah sampai di depan rumah Shania, Shania turun dari motorku dan melambaikan tangannya sambil mengucapkan “hati hati di jalan ya surya”, seperti biasa ku jawab “iya shan”. Lalu ku tancap gas motorku dengan santai dan ku pergi menuju rumah.
~
Waktu terus berjalan hingga 2 bulan, aku merasa seperti seseorang memata-matai hubunganku dengan Shania, ternyata benar, anak 2 yang ku hajar beberapa bulan yang lalu, mereka datang membawa teman lebih banyak, mereka datang untuk membalas dendam,mereka menyandera Shania pas pulang sekolah. Mereka menelponku dan menyuruhku untuk datang menyelamatkan Shania, jika tidak akan terjadi sesuatu pada Shania, dan mereka menyuruhku tidak membawa siapapun termasuk polisi. Aku sudah memberitahukan kepada keluarga Shania dan aku menyuruh keluarga Shania untuk tidak panic agar tetap tenang. Ku segera pulang dan mengambil tongkat besiku yang terbuat dari baja “stainless stell”. Lalu ku pergi menuju markas mereka yang mereka beritahukan kepadaku.
Dugaanku benar, mereka tidak berjumlah 2, melainkan berjumlah 10 orang, ku melihat Shania ketakutan dan menangis minta pertolonganku.
“surya tolongin aku, aku takut” ucap Shania ketakutan yang sedang duduk terikat.
“iy shan, tenang saja ya shan, ku akan melindungimu”
Lalu ku mengucapkan kepada 10 anggota geng itu
“kalian, apa yang kalian inginkan” ucapku pada kelompok geng itu dengan marah
“kami hanya ingin kamu, kami tidak terima tentang kamu memukul salah satu kelompok kami” ucap ketua geng itu dengan santai
“lantas kalian menyandera wanita yang begitu lemah ?, dasar kalian manusia berpikiran dangkal, hanya berani pada wanita, lawan aku kalian semua”
“baik kami akan melawanmu, tapi kami punya syarat”
“apa itu syaratnya ?”
“jika kami menang, maka kamu akan menjadi budak kami, dan kami gak segan2 minta tebusan dari wanita ini” ucap geng tersebut
“ku terima tawaranmu, tapi ku juga punya 2 syarat untuk kalian semua”
“ap itu syaratnya ?”
“pertama lepaskan Shania, kedua jika diantara kalian ada yang cedera serius, saya tidak menanggulanginya” ucapku sambil mengambil tongkat yang terbuat dari baja “stainless steel”
“kamu menang ngomong saja, semuanya SERANG DIA!!!!”
Lalu ku melambaikan tongkatku dengan mudah, ku habisi mereka satu persatu tanpa belas kasihan, bahkan dari mereka ada yang patah tangan dan patah kaki, bahkan ada di antara mereka berdarah di bagian kepala. Setelah ku habisi 9 kelompok geng itu, tersisa 1 ketua yang  belum ku habisi
“hebat kamu hebat, lawan aku dengan tangan kosong” ucap ketua geng tersebut.
Ku taruh tongkat besiku itu di lantai dengan pelan, lalu ku berjalan sambil bersiaga menghadapi ketua tersebut. Ku berjalan penuh amarah, penuh emosi, dan bahkan penuh dendam yang tidak tersampaikan. Ketua tersebut memukulku hingga tidak mengenai satupun dari tubuhku. Lalu ku menyerang balik dengan penuh kekuatan, dan bahkan ketua itu jatuh tersungkur setelah menerima banyak pukulan dariku.
“sudah cukup puas kau menerima pukulanku, hah ?” ucapku sambil emosi
“bbbelum seberapa, rasakan ini “ ketua itu mulai menodongkan pisau dan mau menusuk di bagian perutku.
Dengan begitu sigap ku menghindari pisau tersebut tetapi ku mendapat pukulan yang telak mengenai pipiku. Dengan begitu emosi ku mengambil tongkatku dan ku hajar ketua tersebut habis”an.
Setelah perkelahian itu membutuhkan waktu 10menit, aku berhasil mengalahkan ketua tersebut, dan ketua itu jatuh te pingsan setelah tangan bagian kanannya mengalami patah.
Aku datang menghampiri Shania dan tersenyum kepada Shania sambil melepaskan ikatan dan mengucapkan
“kamu tidak apa2 shan ?, aku menyesal melibatkanmu dalam sebuah perkelahian ini, ku sungguh menyesal ku minta maaf shan”.
Salah satu diantara kelompok geng yang kesakitan itu melihatku sebuah tanda lengan tangan yang bertuliskan “S” dan “H”, dan dia berteriak
“ki..ki..kita salah menghadapi orang, dia adalah Switch, ampuni kami switch ampun”
“aku akan mengampuni kalian semua, jangan lagi kalian datang ke sekolahku, jika di antara salah satu dari kalian membalaskan dendam. Aku tidak segan2 membuat kamu tinggal di kuburan begitu lama” jawabku dengan sinis.
Shania kaget mendengar tentang nama panggilanku “Switch”, Shania pernah membaca artikel tentang berandalan yang tidak pernah di kalahkan, dan bahkan berandalan itu masih misterius, orang itu tidak tau siapa tetapi ciri2nya adalah tanda di lengan dan membawa tongkat baja.
“shan, kamu mengerti kan aku siapa, maafkan aku shan selama ini bohong padamu, ku berpura2 baik padamu, ku berusaha baik pada siapa saja orang, namun kebaikanku tidak pernah di hargai, dan shan, tidak apa2 kamu menganggapku seperti apa, tapi merasa di dekatmu ku begitu senang shan, ku minta maaf shan segalanya, ku menyesal shan, dan terimakasih ya Shania atas segalanya, kamu sudah membuatku hidup ceria,senang,dan mewarnai hari hariku dengan senyummu dan canda tawamu shan, terimakasih ya shan” ku pergi dan mengembalikan bentuk tongkatku hingga seperti kecil
“surya.. aku tau sebenarnya, namun jangan kau bohongin perasaanmu, aku tau kamu berandalan, aku tau kamu tidak punya teman, dan aku tau semua kebaikanmu tidak pernah di hargai. Tetapi aku mencintaimu apa adanya surya, ku sayang kmu surya, ku cinta sama kamu, ku salut dan kagum terhadap orang yang melindungiku, jangan kabur dari hatiku ya surya, ku sayang kamu, ku tidak peduli seperti apa kamu sebenarnya, karna aku tau kamu mencintaiku tanpa alasan,dan aku juga mencintaimu tanpa perlu alasan, sebab hati ini yang merasakan bukan bibirku saja yang mengucapkannya”
“be..benarkah shan ?” jawabku sambil meneteskan air mata sedikit
“iy surya aku benar, jangan kemana2 ya surya, tetap di sisiku ya surya, ku butuh kamu, ku butuh perlindunganmu, dank u butuh pacar layaknya kamu yang menerimaku dengan setulus hatimu sur” ucap Shania sambil tersenyum manis melihatku
Ku berlari kea rah Shania dan memeluk Shania sambil mengucapkan “terimakasih ya shan, kamu mau menerimaku apa adanya, aku senang jika menjadi pacarmu, ku rela melakukan apapun untukmu, asalkan itu membuatmu tidak sedih dan tidak membuatmu untuk meninggalkanku”, Shania pun menjawab “iya, sma2 surya ku sayang kamu kok sur, jangan bersedih lagi ya”, “iy shan, terimakasih ya shan” jawabku sambil menatap shania, “iya sama sama kok surya” ucap Shania sambil tersenyum manis
Tidak lama kemudian polisi datang dan menagkap para geng2 itu, dan orangtua Shania menghampiri Shania dang mengatakan
“maafkan papa dan mama ya Shania, papa dan mama benar2 salah, kami tidak punya waktu untuk kamu sehingga kamu seperti ini, maafkan kami ya shan” ucap papa Shania yang sedang memeluk Shania
“iy mah, pah sama2, aku tidak apa2 sekarang kok, mah, pah, kenalkan ini pahlawan yang menolongku, dia surya mah, pah”
“kamu yang datang ke rumah kita dan menyuruh kita untuk tetap tenang kan ?” ucap ibu Shania yang kaget dan panic
“i..i..i..iya tante, maaf ya tante aku salah ,maaf banget ya tante” ucapku yang ketakutan dan panic
“iy gapapa tante senang kamu mampu menempati ucapanmu, tante salut, terimakasih banyak ya nak surya” ucap ibunya Shania yang memukul pundakku yang begitu kagum.
“hehe, iy tante sama2 “
“yaudah ayok kita pulang,biar polisi yang menangani 10 anak berandalan itu, dan surya kamu kesini naik apa ?” ucap papanya shania
“naik motor om”
“mana motormu surya ?” bingung mencari motorku
“itu om yang berwarna ungu, yang Jupiter mx ungu om”
“oh itu yaudah om dan tante pulang dulu ya sma Shania, ada yang mau kamu ucapkan Shania sma  surya ?” ucap papa Shania.
“ada pa, surya ku pulang ya, kalo kamu udah sampai rumah kabarin saya ya surya, sampai jumpa Surya, hati hati di jalan” ucap Shania yang sambil tersenyum dan pergi meninggalkanku sambil melambaikan tangan
“iya shan, tidak akan lupa semua ucapanmu, LOVE U SHAN” teriakku sambil melambaikan tanganku.
Setelah kejadian itu,aku berubah menjadi anak yang baik, banyak anak yang mendekatiku dan bahkan banyak menghargai kebaikanku. Aku dan Shania sudah sangat lama menjalin hubungan yang begitu erat. Bahkan ku sadar se orang berandalan yang sedang jatuh cinta pada pujaannya, dia akan bersedia melindunginya,dia tidak mau pujaan hatinya disakiti oleh seseorang. Dia akan terus bersamanya hingga waktu dan Tuhan yang memisahkan hubungannya, dan aku sadar tak selamanya berandalan itu akan tetap berandalan, dia akan berubah jika waktu yang tepat. Seorang berandalan akan mampu terluluhkan hatinya jika terpisah dengan pujaan hatinya dan disakiti oleh orang lain.